Karier Indah Lionel Messi Bersama Barcelona Bakal Berakhir Dengan Derai Air Mata Dan Cekcok Parah

Minggu, 26 September 2021

Arenabola.id – Melihat Lionel Messi mengakhiri karier dengan kostum Barcelona adalah cerita sempurna, tetapi sekarang mereka mungkin bakal bertarung di pengadilan.

Lionel Messi ingin meninggalkan Barcelona. Pernyataan yang sungguh mengejutkan tetapi sekaligus biasa saja.

Setelah Blaugrana dipermalukan 8-2 oleh Bayern Munich di Liga Champions, bahkan pihak paling anti sekalipun mengamini jika skenario kepergian Messi bisa terjadi.

Deco mengaku sulit membayangkan Barca tanpa Messi. Samuel Eto’o melengkapi dengan mengatakan jika legenda hidup sepakbola Argentina itu pergi, maka Barcelona harus mengubah nama klub.

“Messi adalah Barcelona,” ujar Eto’o pada TyC Sports. Memang seperti itu bukan? Messi tidak hanya sekadar kapten, dia adalah wajah klub, dia adalah simbol kota.

Messi berada di Catalan sejak usia 13, keyakinannya adalah dia akan mengakhiri karier di Camp Nou. Barcelona adalah rumah keduanya.

Tetapi Messi sekarang sedang melangkah keluar dari klub. Dengan sedikit mengesampingkan sisi sentimentil, keinginan tersebut sejatinya dapat dimaklumi. Barcelona sedang kacau balau, mereka di ambang kehancuran.

Setelah secara memalukan ditelan Bayern Munich, Bartomeu menegaskan jika Barcelona dalam krisis olahraga, bukan krisis institusi.

Klaim tersebut tentu saja jadi tamparan bagi Messi karena secara langsung menunjuk hidung para pemain untuk bertanggung jawab atas situasi yang sedang dihadapi Barca. Ini semua terjadi karena para pemain tampil buruk.

Tetapi kita juga semua paham, alasan utama mengapa Barcelona begitu lemah di atas lapangan adalah, klub dijalankan dengan cara yang buruk.

Sejak Bartomeu terpilih sebagai presiden pada 2015, Azulgrana telah menghabiskan dana yang mendekat ke angka €1 miliar, kemudian pandemi virus corona secara brutal mengeksploitasi posisi finansial buruk tim dan memperlihatkan secara jelas ada dua kubu berbeda; jajaran direksi dan para penghuni kamar ganti.

Ketika negosiasi pemangkasan gaji berlangsung, Messi secara sensasional mengutarakan ada pihak Barcelona yang sengaja menyudutkan para pemain sehingga disorot oleh media.

Ini terjadi hanya beberapa bulan setelah Messi membela rekan setimnya dari tuduhan Eric Abidal yang mengatakan para pemain bertanggung jawab atas pemecatan pelatih Ernesto Valverde.

Episode tersebut membuat Messi murka. Bartomeu mengambil keputusan menendang Valverde meskipun mereka belum memiliki calon pengganti dan tim masih menguasai klasemen LaLiga. Sang presiden kemudian harus puas dengan jasa Quique Setien, pelatih yang belum pernah memenangkan gelar bergengsi dalam kariernya.

Dengan situasi tersebut, kehancuran Barca mudah diprediksi lalu kejadian memalukan di Lisbon terjadi.

Messi sudah berulang kali mengeluarkan peringatan pada klub, dengan cara bermain seperti sekarang, peluang mereka juara Liga Champions praktis tertutup. Dan dia benar.

Barcelona bahkan gagal menghentikan laju Real Madrid saat terjadi transisi LaLiga. Messi merujuk pada kekalahan mengejutkan di kandang sendiri dari Leganes. Barcelona telah memuluskan jalan bagi El Real untuk menapaki tangga juara.

Kekalahan dari Bayern melahirkan kecaman dari berbagai sudut. Barcelona disebut harus melakukan perombakan struktural dan apa yang menimpa tim pada musim lalu sebagai bukti.

Ketika Setien dipecat dan Abidal mengundurkan diri, Bartomeu dengan jelas menyatakan bertahan. Pekan lalu komentarnya memperlihatkan jika dia sedang berkhayal.

“Messi ingin mengakhiri karier di sini. Saya berbicara dengannya dan ayahnya secara reguler. Messi adalah bagian dari proyek kami,” ujar Bartomeu pada BarcaTV.

Pernyataan Bartomeu tersebut mengingatkan pada mantan wakil presiden Jordi Mestre yang mengklaim Neymar 200 persen bertahan padahal di waktu yang sama bintang asal Brasil tersebut tengah merampungkan kepindahan ke Paris Saint-Germain.

Jika menelisik lebih jauh, kepergian Neymar adalah awal dari akhir kiprah Messi dan Barcelona. Kepergian Neymar secara natural berdampak besar terhadap Messi. Di sinilah momen awal Messi kehilangan kepercayaan terhadap Bartomeu.

Sang presiden kemudian menegaskan niat klub untuk membawa pulang Neymar namun hal itu tidak pernah terjadi sehingga rasa frustrasi Messi bertambah.

Messi sudah muak dengan segala janji-janji, sikap di hadapan media dan politik klub.

Pada akhirnya Messi menyadari jika Bartomeu tidak akan mundur lebih cepat, karena jika itu terjadi maka sang presiden harus bertanggung jawab atas defisit finansial tim.

Bartomeu ingin mengembalikan keseimbangan finansial klub demi melindungi segala ‘peninggalannya’.

Pada usia 33, Messi tidak bisa bermain untuk sebuah klub yang harus membangun ulang dari awal. Keemasannya sudah berlalu dan dia ingin mengakhiri karier di level tertinggi.

Fans secara natural akan terpukul dengan kabar ini. Beberapa di antara mereka telah mengeluarkan suara agar Bartomeu meletakkan jabatan.

Menyikapi situasi dengan keras hanya akan memperburuk situasi. Perceraian antara Messi dan Barca tidak akan berjalan mulus.

Klub mempertanyakan klaim Messi yang menyebutkan dirinya bisa meninggalkan Camp Nou secara gratis berdasar pada salah satu klausul kontrak dan jika permasalahan ini dibiarkan berlarut, maka pertengkaran kedua kubu akan lebih parah untuk kemudian berakhir di pengadilan.

Karier Messi di Camp Nou seharusnya tidak berakhir seperti ini. Fans memperlihatkan amarah di luar Camp Nou. Mereka seharusnya berpisah dengan pesta meriah, bukan saling menuding.

Para pendukung klub tentunya berharap terjadinya perubahan angin, mereka berdoa semua kubu menemukan solusi terbaik.

Sayang, melihat perkembangan terkini hal tersebut lebih terasa seperti mimpi.

Messi mencintai klub, kota dan para pendukungnya tetapi dia tidak ingin terikat dengan Barcelona di bawah komando Bartomeu.

Siapa juga yang mau menyalahkan Messi?

Hal Menarik Lainnya