Neymar & Angel Di Maria Positif Covid-19 – Bagaimana Liburan Bintang Paris Saint-Germain Bikin Klub Dalam Krisis

By Editor-B - pada 7th Sep 20 7:08 am

Arenabola.id – Sejumlah bintang PSG – termasuk rekrutan termahal dunia – dinyatakan positif mengidap virus corona menyusul liburannya ke Ibiza.

Saat film berbahasa Inggris diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis, judulnya sering kali tidak masuk akal. Salah satu contohnya adalah film komedi 2009 ‘The Hangover’, yang kemudian menjadi ‘Very Bad Trip’.

Sangat tepat bahwa L’Equipe memilih untuk menggunakan judul terakhir sebagai tajuk berita mereka, sehari setelah dipastikan bahwa tiga bintang Paris Saint-Germain dinyatakan positif Covid-19, tak lama seusai melakukan perjalanan ke pulau Balearic di Ibiza, di mana virus itu menyebar.

Berita itu diikuti dengan pengumuman pada Kamis malam bahwa tiga pemain PSG lainnya juga dinyatakan positif. Pihak klub belum secara resmi mengungkap mereka yang terlibat, tetapi dapat mengonfirmasi bahwa Neymar, Angel Di Maria dan Leandro Paredes adalah yang pertama dinyatakan positif, sementara Mauro Icardi, Keylor Navas dan Marquinhos berada di grup terakhir.

Meskipun tidak dapat dibuktikan bahwa para pemain tertular virus saat liburan, bukti menunjukkan bahwa itulah yang terjadi, mengingat para pemain sempat dinyatakan negatif sebelum final Liga Champions.

Bahkan tidak dua minggu setelah aksi heroik mereka di Portugal, yang membuat klub mengembangkan statusnya dan nyaris mengangkat gelar untuk pertama kalinya sebelum akhirnya kalah 1-0 dari Bayern Munich, kredibilitas juara Ligue 1 itu telah melesat.

Selama akhir pekan PSG seharusnya melakukan perjalanan ke utara untuk menghadapi Lens yang baru promosi, sebaliknya banyak pemain memilih untuk terbang ke selatan, di mana segelintir orang di sana mungkin sudah tertular virus yang telah menyebabkan hampir 900.000 kematian di seluruh dunia, dan telah menyebabkan kerugian ekonomi yang tak terhitung di banyak institusi, termasuk klub sepakbola.

Kemudian penundaan laga menjadi hal yang memalukan sekalipun mereka hanya bermain di “Liga Petani”, sebuah narasi yang coba dipatahkan oleh PSG dan Lyon yang pada gelaran kemarin menembus empat besar turnamen mini Liga Champions di Lisbon.

Sebelum kedua klub itu melakukan perjalanan ke Portugal, disepakati bahwa pertandingan pada hari pembukaan musim Ligue 1 2020/21 akan ditunda jika mereka mencapai tahap semi-final. Diharapkan, juga, bahwa ini tidak akan berubah jika mencapai final, yang bentrok dengan Matchday 1 di Le Championnat.

Hingga Selasa sebelum bentrokan dengan Lens, hal itu tetap dipegang teguh, namun di menit-menit terakhir terjadi putar balik, pihak Liga memilih untuk memberi PSG libur akhir pekan. Sementara itu, Lyon, yang baru bermain tiga hari sebelumnya, tidak mengajukan permintaan untuk pembatalan dan dengan mudah mengalahkan Dijon, dengan mereka dibantu oleh Memphis Depay yang sedang dalam performa terbaik.

Sementara Lens mengatakan bahwa pihaknya tidak ingin terlibat drama dengan memprotes keputusan tersebut, para fans dibuat frustrasi karena mereka merasa memiliki peluang melawan tim yang kembali dari Portugal dengan kelelahan dan patah hati, dan itu tidak lantas menjadi pembenaran untuk menunda pertandingan.

“Ayo serius, kita bermain di Ligue 1 Uber Eats, bukan Ligue 1 PSG!” kata anggota dewan kota Lens Sylvain Robert mengomel.

“Bagaimana Anda menjelaskan kepada fans kami bahwa mereka harus melakukan perjalanan selama seminggu untuk mendukung tim mereka karena PSG, yang frustrasi dengan kekalahan mereka, meminta penundaan pertandingan?

“Para suporter pasti harus menjelaskan kepada atasan mereka bahwa mereka menunda hari kerja hingga 11 September untuk memulihkan diri dari pertandingan. Saya tidak yakin itu akan memiliki efek yang sama!”

Kemarahan Robert akan meningkat ketika ia melihat foto-foto mulai bermunculan di media sosial dari orang-orang PSG yang sedang berlibur. Di Maria dan Navas termasuk di antara mereka yang mengunggah foto bersama, dengan jelas tidak menjaga jarak secara fisik.

Sebelum final Liga Champions, kebersamaan tim itu dipuji, tetapi yang ini jelas lalai.

Neymar segera dipaksa untuk kembali lebih awal ke Prancis pada Senin, bergabung dengan rekan setimnya Marquinhos, tetapi disebutkan bahwa yang lain gagal melakukannya ketika diminta.

Bagi PSG, dampaknya bisa signifikan.

Mereka yang terinfeksi akan melewatkan setidaknya 14 hari latihan setelah dinyatakan positif, dan meskipun pelatih kepala Thomas Tuchel sangat ingin untuk tidak merestrukturisasi rencananya, ia kehilangan sejumlah kekuatan tim untuk pertandingan melawan Lens Kamis depan dan Le Classique melawan Marseille Minggu berikutnya.

Dan jadwal ketat pada kalender dapat menimbulkan kekhawatiran tambahan.

“Jika sebuah tim memiliki lebih dari tiga pemain atau supervisi yang diisolasi selama delapan hari, virus itu dipastikan beredar di klub,” demikian bunyi protokol COVID-19 Ligue 1 saat ini. Itu berarti komite medis dapat merekomendasikan penundaan pertandingan, seperti kasus bentrokan Marseille dengan Saint-Etienne pada hari pembukaan musim.

Aturan ini mungkin akan diperbarui untuk memastikan pertandingan PSG dengan Lens berjalan seperti yang direncanakan pada 10 September, dan harus ada sepuluh kasus positif atau lebih dalam skuad yang terdiri dari 30 orang agar penundaan laga dipertimbangkan.

Kemungkinannya adalah bahwa pertandingan PSG yang akan datang akan dilanjutkan, tetapi jika mereka dipaksa untuk menjadwal ulang salah satunya, itu akan merusak rencana mengingat mereka harus menemukan ruang untuk menghadapi kalender Liga Champions yang padat.

Dan, tentu saja, ada masalah kesehatan jangka panjang dari para pemain yang terinfeksi.

“Hanya karena mereka muda, tampan, bugar, dan atlet top, bukan berarti mereka kebal,” kata Jean-Bernard Fabre, seorang spesialis yang pernah menulis untuk British Journal of Sports Medicine, kepada Le Parisien.

“Pemain Montpellier Junior Sambia sempat dalam perawatan intensif. Memang, itu terjadi pada bulan April saat dimulainya pandemi, tetapi itu tidak hanya terjadi pada orang acak. Dalam sebagian besar kasus, ini berjalan dengan baik, tetapi mungkin ada patologi silent. Salah satu yang sangat menakutkan adalah patologi jantung.

“Kekhawatiran terbesar adalah dampak dari penyakit tersebut. Ada banyak ketidakpastian. Kami tidak tahu apakah ada kemungkinan infeksi ulang di paru-paru atau ginjal pada khususnya. Itulah mengapa situasi para atlet menimbulkan pertanyaan. Karena begitu mereka bermain dalam intensitas tinggi, mereka akan meningkatkan jendela kerentanan mereka.”

Setelah menutup musim 2019/20 dengan kuat, dan hanya dalam beberapa minggu PSG seharusnya kembali bersiap, tiba-tiba saja gelaran 2020/21 terlihat jauh lebih rumit.

Neymar dkk telah kembali dari liburan mereka dengan sesuatu yang jauh lebih buruk dari sekadar ‘hangover’, dan itu tentunya bukan bahan candaan bagi bos mereka.

Hal Menarik Lainnya